Isu suatu produk yang dinyatakan sebagai juara dalam suatu lomba inovasi adalah produk orijinal atau tidak bisa disebabkan kurangnya screening dari produk yang diikutsertakan. Ketika produk tersebut sampai ke tangan juri penilai yang memilki latar belakang yang mungkin berbeda dengan produk yang disajikan atau memiliki spesialisasi yang tidak sama dengan produk yang mereka nilai, penilaian atas orijinalitas sering kali akhirnya terabaikan, tertutupi dengan sudut pandang masing masing juri. Salah satu yang sering dibicarakan adalah kisah produk jenius pendingin bertenaga matahari atau passive cooling atau evaporative cooling.

emily cummins, solar powered refrigerator, solar fridge, sustainable design, socially responsible design, green design, design for health

emily cummins, solar powered refrigerator, solar fridge, sustainable design, socially responsible design, green design, design for health

link

Dalam suatu ajang lomba bergengsi, Oslo Business for Peace Award, suatu ajang   untuk mencari pegiat usaha yang menjunjung tinggi etika, Emily Cummins seorang siswi dari Inggris memenangkan hadiah kehormatan karena temuannya, dilihat dari komentar resmi yang beredar. Kecuali penghargaan itu ia juga memperoleh berbagai penghargaaan  sepanjang 2010 yang berfokus dari sebuah karya yang dianggap fenomenal oleh banyak juri, yaitu sebuah wadah pendingin bertenaga sinar matahari. Berbahan dasar logam serta barang bekas lain, Emily membuat sebuah tabung berlapis dua, di mana di antara kedua tabung tersebut diletakkan bahan yang mampu mengikat air. Bila dijemur, air dari dalam akan menguap melalui lubang pada dinding luar tabung. Penguapan ini, secara ilmu thermodinamika akan menarik sejumlah panas dari tabung tersebut sehingga ruang di dalam tabung menjadi lebih dingin hingga 6 derajat celsius dibandingkan dengan suhu luar. Suhu yang lebih dingin ini da[at digunakan untuk menyimpan sayuran atau buah- buahan yang mudah membusuk.

link

Terdengar hebat, tapi mari kita tengok  ciptaan Mansukhbhai Prajapati  dari Gujarat, India. Ia pada tahun 2005 membuat lemari pendingin yang terbuat dari dua lapis tembikar. Ruang antara ke dua dinding ini digunakan untuk menampung dan memfilter air. Karena permuakaan tembikar yang porous, air tetap dapat meresap keluar dan menguap. Penguapan ini mengambil panas dari ruang dalam lemari sehingga membuat suhu ruangan menjadi 6 derajat lebih dingin dan mampu mengawetkan makanan, susu, atau sekedar mendinginkan menuman. Sama fungsi dan konsepnya seperti milik Cummins, hanya bentuk dan bahan yang berbeda.

link

Sejak mengkomersialkan temuannya itu Prajapati terus menerus mendapatkan liputan dari berbagai media massa dan menerima berbagai penghargaan dari pemerintah. Temuan Prajapati terdengan begitu hebat dan orijinal, namun mari kita menengok sedikit ke belakang.

Rolex Awards tahun 2000, suatu lomba untuk mencari kelompok atau perorangan yang inspiratif dan The Shell Award for Sustainable Development 2001. memenangkan Mohammed Bah Abba seorang guru di Nigeria yang berhasil menciptakan sebuah alat yang dianggap menjadi penyelamat bagi banyak penduduk di wilayahnya. Sebuah pot tanah yang berada di dalam pot tanah liat yang lebih besar yang diberi nama Zeer yang telah dipatenkannya pada tahun 1995 di negaranya. Ruang diantara keduanya dimasukkan bebagai bahan yang mampu menyerap air seperti pasir atau tanah. Ketika dipanaskan dibawah matahari, air akan menguap sambil menarik panas dari ruang di dalam pot yang terdalam, sehingga ruangan di dalam pot menjadi dingin dan dapat digunakan untuk menyimpan bahan makanan yang mudah rusak. Konsepnya sama persis dengan dua produk di atas.

link

Terdengar hebat, sama seperti pendapat para juri dari kedua lomba tersebut yang begitu terkesima pada teknologi sederhana, ramah lingkungan, trdisional, muncul dari kearifan lokal, sustainable, dan sangat mudah direplikasikan, seperti komentar- komentar resmi yang mereka sampaikan.

Bila kita melihat lagi  sejarah, konsep utama ketiga produk tersebut sebenarnya adalah kearifan lokal dari berbagai wilayah di seluruh dunia. Di Indonesia kita mengenal kendi, tempat menyimpan air bercucuk yang selalu membuat saya heran (ketika masih kecil) karena air yang disimpan di sana selalu dingin yang akhirnya saya tahu karena air di permukaan kendi tersebut menguap sembari mengambil panas dari dalam isi kendi, menyebabkan isi kendi menjadi dingin.

link

Atau ada juga sejenis kendi yang disebut Botijo dari Spanyol yang fungsinya menyimpan dan mendinginkan air, bahkan nama botijo saat ini digunakan sebagai istilah efek  pendinginan cuaca akibat penguapan di Spanyol.

link

Orang akan bilang tiga produk di atas sangat berbeda dengan penyimpan air dari tanah liat di atas, karena tiga produk di atas dapat digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Ada benarnya bila kita tidak mengetahui bahwa teknologi pendinginan dengan cara penguapan ini sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu  di berbagai belahan dunia. Contohnya konsep Swamp Cooler, konsep pendinginan primitif berdasarkan penguapan yang berkembang di Amerika Serikat sebelum listrik digunakan secara meluas. Salah satu yang tersisa adalah lemari pendingin yang saat ini masih dapat digunakan untuk mendinginkan minuman di The Mojave River Valley Museum. Pendingin tipe ini dikomersialisasikan pada tahun 1800-an.

Mojave River Valley Museum's Cooler

Swamp cooler koleksi The Mojave River Valley Museum, link

Inovasi seringkali memang menimbulkan berbagai pertanyaan untuk dieksplorasi, apakah suatu inovasi itu berguna, apakah inovasi itu original, apakah inovasi tersebut dapat merubah cara hidup manusia menjadi lebih baik, apakh inovasi tersebut beretika, dan lain- lain. Bagi saya apa yang dilakukan dan dicapai Emily Cummins yang telah melanglang buana berkeliling Afrika karena produknya, atau Mansukhbhai Prajapati yang tiba- tiba menjadi ikon inovasi di negaranya, atau Mohammed Bah Abba yang telah memenangkan hadiah bernilai puluhan ribu dolar adalah luar biasa. Mereka telah membuktikan bahwa mereka memiliki ide, yang mungkin tanpa mereka sadari telah ada sebelumnya, dan mereka mampu meyakinkan banyak pihak bahwa temuannya adalah luar biasa (dan memang luar biasa), serta merealisasikannya bahkan menkomersialkannya. Beberapa ahli mengkategorikan produk mereka sebagai indigineous innovation, suatu inovasi yang muncul secara alami dari kearifan lokal setempat, namun saya setuju dengan Gerard H. Gaynor dalam bukunya Innovation by Design, yang mereka lakukan telah lulus sebagai inovasi sesuai dengan rumusnya yang sangat tidak konvensional “Innovation = invention + implementation/commercialization”, hanya sayangnya pihak yang menilainya sebagai suatu “invention” yang menurut Wikipedia diartikan sebagai penemuan atau reka cipta adalah suatu bentuk, komposisi materi, peranti, atau proses yang baru, melupakan atau kurang memahami  kata kunci yang penting “BARU”.

Posted by Adi Widjaja, M.Sc.

About thesmallideablog

Entrepreneur & teacher

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s