Apakah Anda pernah mendengar atau melihat tayangan TV yang menunjukkan kemampuan monyet capuchin dari pedalaman Brazil memilih batu atau permukaan keras untuk memecahkan telur atau kacang- kacangan yang berkulit keras?

capuchin monkey

link

Apakah Anda pernah memiliki seorang anak atau keponakan yang masih kecil yang tiba- tiba menggunakan tongkat atau benda yang panjang untuk menggapai suatu barang di kolong tanpa ada yang memberi contoh atau mengajari mereka?

Atau pernahkah Anda mendengar bahwa burung gagak dapat memiliki akal untuk menaikkan permukaan air dalam suatu wadah dengan cara memasukkan kerikil kedalamnya sehingga permukaan air dapat lebih terjanggkau dan burung dapat memakan atau menggapai makanan yang terapung pada permukaan?

rook

link

Penggunaan permukaan keras oleh monyet, penggunaan tongkat oleh anak kecil, dan penggunaan kerikil oleh burung gagak tersebut saya yakin muncul dari kekuatan kreatif yang secara alami ada dalam ketiga makhluk Tuhan tersebut. Saya menyebut energi kreatif tersebut sebagai energi untuk bertahan hidup. Mereka melakukan inovasi, atau innovare dalam bahasa latin yang berarti merubah (cara mereka yang lama) atau memperbaharui (cara mereka yang lama) dengan hasil inovasi berupa permukaan keras bagi monyet, tongkat bagi anak kecil, dan kerikil bagi sang gagak. Yang jadi pertanyaan, apakah inovasi yang mereka lakukan adalah inovasi yang bagus? Semua sudah tahu bahwa untuk memecahkan benda keras kita dapat memukulkannya pada suatu permukaan yang keras, atau kita dapat menggapai suatu benda tersembunyi di bawah kolong dengan benda panjang seperti tongkat, atau kita juga memahami bahwa bila kita memasukkan benda ke dalam air, maka permukaan air akan naik (hukum archimedes). Dengan berbagai alasan tersebut kita bisa mengatakan bahwa yang dilakukan oleh monyet di atas, anak kecil, serta burung gagak adalah inovasi yang tidak original, jadi kita mengkategorikannya sebagai inovasi yang buruk. Apakah demikian? Monyet, anak kecil, dan gagak tersebut tidak pernah  meniru, mencontoh, mengkopi, mendengar perintah, ataupun mengikuti siapapun untuk melakukan hal luar biasa (menurut saya) tersebut.

Di sini kita melihat ternyata suatu inovasi memilki nilai yang berbeda pada saat kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, saya menyebutnya sebagai kedewasaan inovasi. Suatu inovasi harus dikaitkan pada suatu konteks tertentu, baru kita dapat membandingkan dengan berbagai inovasi dalam konteks yang sama, baru kita dapat menetapkan inovasi tersebut sebagai inovasi yang baik atau yang buruk. Misalnya konteks umur, spesies, tingkat edukasi, profesionalitas, lomba, dan lain lain.

Dalam konteks tingkat edukasi misalnya, karya seorang arsitek S2 lulusan sekolah ternama bila dia membuat rumah seperti rumah pada umumnya, tidak ada keistimewaan yang menonjol, kita dapat mengatakan bahwa sang arsitek tidaklah inovatif. Namun bila seorang wanita kuno lulusan SD pada jaman Belanda, mampu medesain dan membangun sebuah rumah dengan bentuk yang sangat tidak konvensional pada jamannya (kontemporer?) dan jaman sekarang, dengan sudut tembok berbentuk bulat,  jendela berbentuk bulat, lubang angin di loteng juga berbentuk bulat yang dapat digeser untuk membukanya, dengan tiang penyangga berlapis batu berwarna, berbagai bentukan geometris dari pintu, jendela, dan lubang udara, kita dapat mengatakan bahwa perempuan itu sangatlah inovatif. Perempuan itu kebetulan nenek saya.

Dalam konteks dunia binatang, yang dilakukan oleh monyet di atas dan burung gagak menunjukkan kemampuan inovasi yang luar biasa, sebab saya tahu bahwa orang utan, bahkan hewan sepintar simpanse tidak mampu melakukan yang dilakukan oleh monyet capuchin. Saya juga tahu bahwa burung gagak lebih inovatif dibandingkan dengan betet atau parkit yang terkenal pintar sekalipun.

Namun seandainya kita berpikir sedikit khayal, misalnya seekor monyet capuchin mendaftarkan permukaan keras yang dia gunakan sebagai alat untuk memecah biji- bijian tersebut dalam sebuah lomba inovasi seperti Black Innovation Awards dengan nama “Hard Floor Crusher”, atau anak kecil mendaftarkan gagang sapunya sebagai alat untuk menggapai benda di bawah kolong dengan nama “de’ Kolonx”, bagaimana pendapat kita. Kita pasti akan mengatakan bahwa produk tersebut adalah inovasi yang buruk meskipun kita sadar bahwa (mungkin) tidak ada lembaga patent manapun di muka bumi ini yang pernah menerima patent untuk produk- produk tersebut. Kita mengatakan inovasi tersebut jelek dalam konteks inovasi tersebut bersaing dalam suatu lomba inovasi, di mana ada kriteria- kriteria, penilaian subyektif sesuai keahlian para juri, ketajaman dari para screener, komentar , dan lain sebagainya.

Bagi saya inovasi yang baik adalah inovasi yang dewasa, yaitu inovasi yang mencapai batasan kualitas tertentu dalam suatu konteks tertentu.

Bagaimana menurut Anda?

About thesmallideablog

Entrepreneur & teacher

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s